Jumat, 11 November 2011

Kelelapan Jiwa yang Letih



Malam terasa begitu hening ditepi serambi
Ujung-ujung lentera telah mati
Jiwa-jiwa yang letih telah terbang ke alam mimpi
Hanya nyanyian binatang malam berpadu seru mengutarakan sebuah simfoni
Menyelimuti ruang gelap yang menyejukkan hati

Guratan Hati



Cahaya lilin temaram disudut malam
Suara-suara sepi bernyanyi menyentuh hati
Seraut wajah sendu menatap penuh sepi
Mencoba merajut kepingan mimpi yang telah pergi

Beribu penyesalan yang tiada kunjung padam
Rindu dan benci berputar silih berganti  
Mengendapkan mendung hati yang akan menurunkan hujan sehari

Cermin telah retak disela penghujung waktu yang kadang tak pernah paham
Lembaran kisah yang dilukis indah dengan canda dan tawa
Kini hanya tinggal jejak langkah pencarian jati diri


Senja Ditepi Dermaga



Senja memerah meredupkan sinarnya
Seorang dara berdiri memandang jauh ditepi dermaga
Debur ombak tiada henti mengalun mengikis sepi
Ketika kepedihan berkecamuk di relung hati

Sejenak ia renungkan kisah hidupnya
Gurat-gurat kekecewaan membuatnya tertunduk lesu
Tak terasa bulir air mata jatuh menetes membasahi pipi lembutnya
Bulir-bulir itu perlahan jatuh ditelan sang ombak yang tiada henti berderu

Helai rambutnya terurai tertiup angin senja
Perlahan ia pejamkan mata tuk menata pilu yang kian menyayat pedih
Seiring senja didermaga yang perlahan menenggelamkan sinarnya